Apa yang Allah Suka

Publish: Rabu, 16 April 2025 (pukul 20.27 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata


Apa yang Allah Suka

Oleh : Azizah Turrosyidah
Program Studi Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

 

Keterpaksaan dalam Mendekatkan Diri kepada Allah, Apakah Salah?

Pertanyaan di atas adalah sesuatu yang pernah aku tanyakan pada diriku sendiri beberapa bulan lalu. Apakah boleh sebuah keterpaksaan menjadi niat kita untuk lebih dekat dengan Allah? Sebelum aku lanjutkan, izinkan aku berkenalan terlebih dahulu. Namaku Azizah, gadis delapan belas tahun dengan mimpi yang besar. Sejak remaja, aku selalu ambisius dalam mengejar apa yang kuinginkan, dan aku sudah memainkan berbagai peran dalam hidupku.

Aku pernah menjadi orang yang pelit, sombong, cuek, dewasa, atau bahkan dikenal sebagai seseorang yang bijak hingga sering dimintai pendapat. Jadi, aku bukanlah wanita yang memiliki banyak ilmu dan shalihah, tetapi aku tentu ingin berproses ke arah sana. Begitu juga dengan kalian, bukan? Kita semua ingin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih mandiri, dan teguh dalam pendirian.

Gambar 1. Dari kebiasaan itu tumbuh cinta kepada Allah SWT

Aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan, "Iman itu kadang naik dan kadang turun. Iman juga bisa bertambah dan berkurang." Sebagai manusia dengan iman yang tidak selalu stabil, kita sering kali goyah ketika dihadapkan pada pilihan, terutama sebagai kaum hawa yang menghadapi berbagai ujian di zaman ini.

Salah satu contoh yang nyata adalah dalam hal berpakaian. Seiring perkembangan zaman, tren busana terus berubah, menjadi semakin modern dan mewah. Terkadang, kita lebih memikirkan apakah pakaian kita menarik perhatian dan mendapat pujian dari orang lain, dibandingkan mempertimbangkan apakah sudah sesuai dengan syariat Islam. Sayang sekali jika pakaian yang kita kenakan indah dan mahal, tetapi belum memenuhi standar menutup aurat dengan sempurna.

Di era digital ini, tren sering kali menjadi tolok ukur kehidupan. Apa yang sedang populer bulan ini? Model hijab apa yang sedang tren tahun ini? Bahkan, kegiatan apa yang sedang viral hari ini? Banyak dari kita mengikuti tren media sosial agar terlihat gaul dan tidak membosankan. Namun, jujur saja, aku bukan tipe orang yang suka mengikuti tren yang semakin hari semakin aneh dan tidak karuan. Mungkin ada yang sependapat denganku?

Menurutku, pakaian yang baik adalah yang nyaman dikenakan serta mampu menutup aurat dengan sempurna. Aku sendiri tidak dibesarkan dalam lingkungan yang mewajibkan berpakaian syar’i, tetapi sejak kecil aku sudah dibiasakan mengenakan kerudung. Keluargaku pun bukan keluarga yang sangat religius, hanya keluarga Muslim biasa. Bahkan, terkadang aku memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang tuaku mengenai beberapa hal. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar, justru aku diajak untuk berpikir kritis mengenai agama dan perkembangan zaman.

Sering kali, diskusi tentang agama membuat iman kita bertambah. Tanpa disadari, kita terdorong untuk mencari tahu lebih dalam tentang hal-hal yang belum kita pahami. Tentu saja, aku menyarankan agar kita mencari ilmu dari para ahlinya. Sekarang, aku akan menjawab pertanyaanku sendiri. Menurutku, keterpaksaan dalam mendekatkan diri kepada Allah bukanlah hal yang salah. Jika hal itu membuat kita semakin rajin beribadah, mengapa tidak? Bukankah kebiasaan baik bisa dimulai dari keterpaksaan? Misalnya, jika di sekolah kita terbiasa mengenakan jilbab lebar, maka di rumah pun kita akan terbiasa melakukan hal yang sama. Itu adalah bentuk rasa malu yang Allah titipkan kepada kita. Namun, jika rasa malu itu hilang dan kita tidak lagi peduli dengan aurat yang terbuka, maka saatnya untuk segera introspeksi diri dan bertaubat.

Pernah suatu ketika, aku menghadiri sebuah majelis dan mendengar kutipan ini: "Lakukan apa yang Allah suka, bukan hanya apa yang membuat kita bahagia." Kalimat ini sangat menyentuh hati dan membuatku berpikir. Sudahkah kita menyenangkan Allah dengan sikap, perilaku, dan ibadah kita? Jika ditanya demikian, sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab, "Belum." Aku pun demikian. Masih sering lalai dalam kesenangan dunia dan lupa bahwa akhiratlah yang kekal. Namun, satu hal yang pasti: jika kita melakukan sesuatu yang Allah sukai, itu juga akan membawa kebahagiaan bagi kita. Tapi, sesuatu yang membuat kita bahagia belum tentu Allah ridhoi. Maka, kita harus memilih: mengikuti hawa nafsu atau mencari ridha-Nya?

Coba buat daftar langkah hijrah kita tahun ini, seperti memakai jilbab yang lebih panjang, membiasakan memakai kaus kaki, atau rutin mengerjakan salat Dhuha. MasyaAllah, jika kita sudah mendapatkan cinta Allah, maka insyaAllah cinta dari makhluk-Nya pun akan mengikuti. Bagi kalian yang merasa lingkungan atau pertemanan saat ini menjauhkan dari Allah, kalian berhak menjaga jarak atau bahkan mengajak mereka untuk berubah bersama. Namun, jika ajakan itu tidak berhasil, jangan buru-buru menjauh dan memutus tali silaturahmi. Sebaiknya, carilah lingkungan yang lebih baik, seperti mengikuti majelis ilmu atau bergabung dengan komunitas yang bernuansa Islami.

Jika mental kita belum cukup kuat menghadapi cibiran dari sekitar, mulailah hijrah secara perlahan. Tunjukkan bahwa perubahan ini membawa dampak positif bagi akhlak dan perilaku kita. Yang terpenting, niatkan semuanya karena Allah. Jika suatu saat kita jatuh dan merasa sendirian, kita tidak perlu bergantung pada manusia, karena kita tahu bahwa Allah selalu ada di samping kita. Hijrah itu tidak mudah, tetapi harus dicoba. Semua butuh proses, dan aku sendiri masih terus belajar. Namun, aku yakin jika kita melakukannya bersama, semuanya akan terasa lebih ringan.